Jadi gini...
Long story short, berbagai sentilan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala bikin gue sadar dan akhirnya berusaha mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Jadi gue menuntut ilmu. Tapi bukan sekedar menuntut ilmu layaknya yg dipahami masyarakat umumnya. Gue menuntut ilmu agama, gue berusaha mendalami kajian-kajian yang sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Oh iya, disclaimer dulu ya. Biarpun gue penuntut ilmu, tapi gue masih manusia biasa. Masih belajar. Masih banyak salahnya. Masih suka futur juga. Futur itu kondisi iman menurun. Yup, iman manusia itu seperti roller coaster, bisa naik bisa turun. Manusiawi. Yg penting pas lagi turun, jangan dimanjain futurnya... dan punya circle sesama penuntut ilmu itu bener-bener ngebantu naikin iman.
Balik lagi. Pastinya gue sungguh sangat jauh dari sempurna, jadi semoga ga ada lagi para generaliser, manusia-manusia penggeneralisir yang mikirnya, "kok jilbab panjang masih suka maksiat sih?". Ow please, I'm not an angel. Tapi ya gue bakal berusaha buat menjadi lebih baik.
Salah satu yg gue yakini setelah gue berusaha mendalami agama gue sendiri, yaitu adanya penyakit 'ain. Bahasa jawanya sih 'Evil Eye'.
‘Ain itu diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya apabila ia menatapnya dengan matanya. Asalnya dari kekaguman orang yang melihat sesuatu, kemudian diikuti oleh jiwanya yang keji, kemudian menggunakan tatapan matanya itu untuk menyampaikan racun jiwanya kepada orang yang dipandangnya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya, Muahmmad
shalallahu ‘alaihi wa sallam, untuk meminta perlindungan dari orang yang dengki. (Referensi:
https://konsultasisyariah.com/10400-hakikat-ain.html)
Lebih baik baca langsung dari sumbernya yang ada di tautan. Gue bener-bener penuntut ilmu pemula. Kalo dilevelin, masih level 0.025 kali ya. Belom hapal hadist-hadist.
Kalo dibaca-baca rasanya tu kayak 'percaya ga percaya' ya. Tapi karena gue berusaha menjadi lebih baik lagi. Sebagai seorang muslimah, gue meyakini itu. Jadi, sejak gue berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan, gue mulai ngapus-ngapusin foto gue yang beredar.
"Trus di sosmed kok masih suka upload?"
Ya... Itu hobi sih. Sekali lagi harap baca disclaimer gue ya. Emang sebaiknya ga upload. Gue sedang belajar buat mengurangi. Makanya gue kalo upload foto yang ada orangnya, gue milihin yang foto wajahnya itu ga keliatan. Entah madep belakang lah, backlight lah, siluet lah. Tapi karena gue hobi, jadi ya masih di upload. Berhubung dikasih wabah juga sama Allah Subhanahu Wa Ta'ala, jadi gue ga bisa foto-foto pemandangan, objek yang sebenernya lebih seneng gue foto ketimbang foto manusia.
Jadi begitu ya. Karena gue percaya sama agama gue dan mengimani firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam yang shahih, jadilah apa yang gue upload begitu adanya.
So, gue gitu bukan karena ga pede sama diri sendiri, tapi karena agama. Allah Subhanahu Wa Ta'ala udah kasih kita manual book sedemikian rupa buat dijalani kalo mau hidupnya tenang.
Btw, agak OOT dikit nih ya. Kalimat seperti, "jilbaban kan bikin ga bebas", "kalo ngikutin agama hidupnya kaku". Ooow... mungkin terlihat seperti itu bagi yang tidak merasakan. Sebenernya, yang ngelakuin bener-bener 'B' aja dan ikhlas banget loh. Malah itu kebahagiaan dan 'bebas' yang sebenarnya. Ikhlas ngejalanin syariat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bahagia dengerin ilmu-ilmunya. Udah ga bingung mikir "ntar orang bilang apa ya", udah ga ngejer kebahagiaan semu lainnya.
Jadi gitu ya warga... jangan kaget ya, kan manusia akan senantiasa berubah ;)